Hai Cantikers! Pernahkah kamu mengatakan “iya” padahal di dalam hati ingin sekali berkata “tidak”?Teman mengajak nongkrong padahal badan sudah sangat lelah, tapi tetap diiyakan karena tidak enak hati. Atasan meminta lembur padahal itu bukan tugas utama, tetap diiyakan juga. Lama-lama timbul rasa lelah, tapi bingung penyebabnya apa.
Jika hal itu sering terjadi, bisa jadi kamu terjebak dalam pola people pleasing.Tenang saja, kamu tidak sendirian. Banyak dari kita dibesarkan dengan pesan harus jadi anak baik, harus menurut, dan jangan membuat orang lain kecewa. Akibatnya, kita menjadi ahli dalam membuat orang lain senang, tapi lupa cara membuat diri sendiri senang.
Padahal, berkata tidak bukan berarti egois atau jahat. Berkata tidak adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Also Read
Apa Bedanya Baik Hati dan People Pleasing?
Keduanya terlihat mirip, tapi dampaknya sangat berbeda.Saat seseorang baik hati, ia membantu karena memang ingin dan mampu. Hatinya tulus.Saat seseorang menjadi people pleaser, ia membantu karena takut. Takut dianggap tidak asyik, takut dijauhi, takut dinilai sombong. Bantuannya bukan karena keinginan, tapi karena takut ditolak.
Coba cek, apakah ciri ini ada pada dirimu?Sering meminta maaf padahal tidak bersalah.Sulit menolak walau sudah sangat lelah. Selalu butuh persetujuan orang lain untuk merasa aman. Lebih memilih diam daripada menghadapi konflik kecil. Sering merasa lelah secara mental setelah seharian menyenangkan semua orang.Jika tiga dari lima poin tersebut terasa familiar, artikel ini memang untuk kamu.
Mengapa Kita Bisa Menjadi People Pleaser?
Tidak ada orang yang tiba-tiba menjadi people pleaser. Pola ini biasanya terbentuk perlahan.Pertama, dari pola asuh. Sejak kecil kita diajarkan untuk selalu mengalah agar disayang. Kedua, dari lingkungan kerja dan pertemanan yang menuntut kita untuk selalu berkata “ya”. Ketiga, dari media sosial yang membuat kita merasa harus selalu terlihat baik dan disukai semua orang.
Jika terus dibiarkan, dampaknya tidak baik. Risiko burnout meningkat, potensi dimanfaatkan orang lain menjadi lebih besar, dan yang paling menyedihkan, kita bisa kehilangan jati diri dan lupa apa sebenarnya yang kita inginkan.
5 Cara Bilang Tidak Tanpa Drama dan Rasa Bersalah
Berkata tidak adalah sebuah keterampilan. Artinya, hal ini bisa dilatih. Berikut lima cara yang bisa kamu coba mulai minggu ini.
- Gunakan Teknik Sandwich
Jangan langsung berkata tidak dengan nada keras. Selipkan penolakan di antara dua kalimat yang baik.Rumusnya: Apresiasi + Penolakan yang Jelas + Harapan Baik.Contohnya: “Terima kasih banyak sudah mengajak, saya senang sekali diajak. Tapi untuk hari Sabtu ini saya belum bisa ikut karena sudah ada janji untuk istirahat di rumah. Lain kali ajak lagi ya.”Orang lain tetap merasa dihargai, dan kamu tetap bisa menjaga batasan
.2. Jangan Jawab Spontan, Beri Jeda
Kebiasaan seorang people pleaser adalah langsung menjawab “iya” secara otomatis. Coba rem kebiasaan tersebut.Jika ada yang meminta sesuatu, cobalah jawab: “Boleh saya pikirkan dulu sampai nanti sore? Saya cek jadwal terlebih dahulu.”Jeda dua sampai tiga jam saja sangat membantu. Jeda tersebut memberi waktu bagi pikiran untuk berpikir jernih, apakah kamu benar-benar ingin membantu atau hanya merasa tidak enak.
- Tolak Tugasnya, Bukan Orangnya
Kamu tetap bisa menjadi orang baik tanpa harus mengerjakan segalanya.Pisahkan antara orangnya dan permintaannya. Yang ditolak adalah permintaannya, bukan pertemanannya.Contoh: “Saya belum bisa bantu mengerjakan laporannya sampai selesai, tapi saya bisa bantu memberikan template yang kemarin saya pakai supaya lebih cepat.”Kamu tetap membantu, tapi dengan cara yang tidak mengorbankan waktu dan tenaga.
- Cukup Satu Kalimat, Tidak Perlu Karangan Panjang
Ini adalah kesalahan yang paling sering terjadi. Karena merasa bersalah, kita membuat alasan yang panjang, bahkan terkadang sampai berbohong.Padahal, semakin panjang alasan yang dibuat, kesan yang muncul justru menjadi tidak yakin.Cukup satu kalimat yang jujur dan tenang. Contoh: “Maaf, minggu ini saya belum bisa mengambil pekerjaan tambahan.” Selesai. Tidak perlu bercerita panjang lebar. Orang yang dewasa pasti akan mengerti.
- Mulai Latihan dari Hal Kecil
Jangan langsung berlatih menolak atasan. Mulailah dari hal yang paling kecil dan aman.Misalnya, menolak tawaran membeli minuman yang tidak dibutuhkan, menolak brosur di jalan dengan senyuman, atau menonaktifkan centang biru WhatsApp untuk beberapa jam agar tidak harus selalu membalas dengan cepat.Semakin sering berlatih pada hal kecil, keberanian untuk menolak hal besar akan semakin kuat. (ana)














