Bangga Indonesia, Jakarta — Kemudahan berbelanja tanpa keluar uang di awal membuat PayLater jadi bagian dari gaya hidup. Tapi bagi keluarga muda, fasilitas ini bisa jadi bumerang ketika keinginan mengikuti tren lebih besar daripada kemampuan mengatur keuangan.Hal itu diingatkan Indah Tri Kurniawati dari Danamon Syariah dalam Forum Edukasi Literasi Keuangan Keluarga Muda Tangguh. Kegiatan ini merupakan rangkaian Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Ballroom Hotel Dwangsa Solo, Jumat, 7 Agustus 2026.
PayLater: Utang yang Dikemas Praktis
Menurut Indah, PayLater pada dasarnya adalah utang dengan skema “beli sekarang, bayar kemudian”. Kedengarannya ringan karena tidak perlu bayar saat checkout. Masalahnya muncul ketika pola pikir “nanti pasti bisa bayar” muncul.
“Ketika kita terjebak dalam konsep beli dulu baru bayar, tagihan bisa semakin menumpuk. Dampaknya bukan hanya terhadap kondisi keuangan, tetapi juga kesehatan mental dan akhirnya dapat memengaruhi pola asuh terhadap anak,” kata Indah.
Also Read
Akibatnya, seseorang bisa mengambil utang baru sebelum melunasi utang lama. Lama-lama terbentuk lingkaran utang yang sulit diputus. Data juga menunjukkan pertumbuhan layanan PayLater sangat cepat. Outstanding PayLater tumbuh sekitar 70 persen per tahun. Layanan ini banyak ditawarkan aplikasi belanja daring dengan proses aktivasi hanya hitungan menit. Kemudahan akses inilah yang membuat masyarakat perlu sadar: PayLater tetap kewajiban, bukan tambahan penghasilan.
FOMO: Pemicu Utang Konsumtif Keluarga Muda
Tekanan gaya hidup di media sosial membuat fenomena Fear of Missing Out atau FOMO makin kuat. Banyak keluarga muda terdorong membeli barang, nongkrong di kafe, atau liburan demi terlihat “tidak ketinggalan” dari lingkungan. Kondisi ini makin relevan di tengah tekanan inflasi. Ketika pemasukan terbatas tapi keinginan tinggi, PayLater jadi solusi instan yang akhirnya menambah beban. Indah menekankan, literasi keuangan sangat penting di titik ini.
Survei menunjukkan tingkat literasi keuangan nasional Indonesia saat ini 64,46 persen. Namun literasi keuangan syariah baru 43 persen. Artinya masih banyak masyarakat yang belum memahami cara mengambil keputusan finansial secara rasional, termasuk saat ditawari kredit digital.
Dampaknya Lebih dari Sekadar Uang
Masalah keuangan keluarga tidak berhenti di dompet. Indah menyebut pengelolaan uang yang buruk bisa memicu konflik rumah tangga, meningkatkan stres, melemahkan kerja sama suami-istri, hingga berdampak pada anak.”Keuangan keluarga yang sehat bukan ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi oleh kebijaksanaan dalam mengelola rupiah yang Allah titipkan kepada kita,” ujarnya.
Kebutuhan keuangan keluarga juga berubah sesuai tahapan hidup. Indah membaginya dalam 6 fase: pondasi awal, akumulasi awal, akumulasi cepat, puncak pendapatan, financial freedom, hingga distribusi kekayaan. Di setiap fase, prinsipnya sama: pengeluaran tidak boleh lebih besar dari pemasukan.
5 Prinsip Agar Tidak Terjebak PayLater dan FOMO
Agar keluarga muda tetap tangguh secara finansial, Indah merangkum 5 langkah penting:
1. Catat dan Sadar Kondisi Keuangan
Mulai dari mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga semua cicilan. Tanpa data, sulit tahu ke mana uang mengalir.
2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Butuh HP baru karena rusak beda dengan ingin ganti HP demi tren. Tunda keinginan yang tidak mendesak.
3. Siapkan Dana Darurat
Bisa berupa tabungan atau tabungan emas yang dikumpulkan bertahap. Nominal awal tidak penting, konsistensi yang utama. Dana ini untuk jaga-jaga saat ada kebutuhan tak terduga.
4. Jauhi Utang Konsumtif dan PayLater
Jika harus berutang, pilih utang produktif yang bisa menghasilkan nilai atau pendapatan. Indah menyarankan total cicilan seluruh utang dijaga di bawah 30 persen dari penghasilan bulanan. Sebelum ambil pinjaman, tanyakan 2 hal: “Apakah saya mampu bayar cicilannya?” dan “Apakah ini benar-benar butuh atau hanya ikut gaya?”
5. Susun Rencana Keuangan dengan Prinsip SMART
Tujuan finansial harus Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan punya batas Waktu. Bagi jadi target jangka pendek, menengah, dan panjang. Contoh: dana pendidikan anak 3 tahun lagi, DP rumah 5 tahun lagi.
Waspada Penipuan Digital
Di era transaksi digital, literasi juga berarti mampu mengenali modus penipuan. Banyak kasus uang tabungan raib karena tergiur link, hadiah, atau investasi bodong. Uang yang sudah dikelola baik bisa hilang seketika jika lengah.
Kendalikan Diri, Bukan Dikuasai Tren
PayLater dan FOMO bukan musuh. Keduanya hanya alat dan perasaan. Yang berbahaya adalah ketika kita tidak punya kendali. Keluarga muda perlu ingat, menampilkan gaya hidup di media sosial hanya butuh beberapa detik. Tapi melunasi tagihannya bisa makan waktu berbulan-bulan. Mulai sekarang, cek ulang isi keranjang belanja. Tanyakan pada diri: ini kebutuhan atau hanya karena takut ketinggalan tren?Karena pada akhirnya, keluarga yang tangguh bukan yang paling banyak barangnya. Tapi yang paling tenang keuangannya. (ana)














